Jumat, 29 Juli 2016

Sekilas tentang terapi penyakit stroke

PEMULIHAN KONTROL MOTORIK PENDERITA STROKE DENGAN
MOTOR RELEARNING PROGRAMME
Oleh : B. Suhartini
Dosen Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi FIK UNY
Abstrak
 
Masa era globalisasi adalah masa penuh persaingan dalam hidup, sehingga
banyak orang ingin berlomba-lomba untuk menjawab tantangan dan ingin menjadi yang
terbaik. Tidak sedikit orang tidak menghiraukan kondisi fisik sehingga banyak terserang
penyakit salah satunya stroke.
Stroke adalah suatu gangguan fungsi syaraf akut yang disebabkan oleh karena
gangguan peredaran darah otak yang timbul secara cepat dalam beberapa jam dengan
gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Hampir delapan puluh
persen penderita stroke mempunyai defisit neuromotor sehingga memberikan gejala
kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat kelemahan bervariasi dari yang lemah sampai
yang berat. Ciri tersebut adalah kehilangan sensibilitas, kegagalan asistem
koordinasi,perubahan pola jalan dan terganggunya keseimbangan. Kondisi ini
mempengaruhi kemampuan untuk untuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari, setelah
serangan stroke penderita harus mempelajari kembali hubungan somatosensori baru atau
lama untuk melakukan tugas-tugas fungsionalnya.
Rehabilitasi stroke merupakan salah satu program menyeluruh yang terkoordinasi
antara medis dan rehabilitasi untuk tujuan mengoptimalkan dan memodifikasi
kemampuan fungsional yang ada. Program rehabilitasi stroke telah terbukti dapat
mengoptimalkan pemulihan, sehingga penderita stroke mendapat keluaran fungsional dan
kualitas hidup yang lebih baik. Salah satu program rehabilitasi yang sering dipergunakan
untuk mengembalikan fungsi karena defisit motorik adalah MotorRelearning
Programme.
.
Kata kunci : Kontrol Motorik, Penderita Stroke, Motor Relearning Programme
Teknik Motor Relearning Programme dilakukan latihan fungsional dan
identifikasi kunci utama tugas-tugas motorik. Setiap aktivitas motorik dianalisis dan
ditentukan komponen-komponen yang tidak dapat dilakukan, melatih penderita serta
memastikan latihan dilakukan pada aktifitas sehari-hari pasien. Latihan aktifitas motorik
harus dilakukan dalam bentuk aktifitas fungsional karena tujuan dari rehabilitasi tidak
hanya sekedar mengembalikan suatu pergerakan akan tetapi mengembalikan fungsi.
Delapan puluh persen penderita stroke mempunyai defisit neuromotor sehingga
memberikan gejala kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat kelemahan bervariasi dari
yang lemah hingga hingga berat, kehilangan sensibilitas, kegagalan sistem koordinasi,
perubahan pola jalan dan terganggunya keseimbangan , sehingga akan mengganggu
kemampuannya untuk melakukan aktifitas sehari.
Dalam teknik ini dilakukan latihan fungsional dan identifikasi kunci utama suatu
tugas-tugas motorik, seperti duduk, berdiri atau berjalan. Setiap tugas motorik dianalisis,
ditentukan komponen-komponen yang tidak dapat dilakukan, melatih penderita untuk
hal-hal tersebut serta memastikan latihan ini dilakukan pada aktivitas sehari-hari pasien.
Latihan motorik harus dilakukan dalam bentuk aktivitas fungsional karena tujuan dari
rehabilitasi tidak hanya sekedar mengembalikan suatu pergerakan akan tetapi juga
mengembalikan fungsi. Proses latihan harus meningkatkan kemudahan mobilisasi, rawat
diri dan aktivitas kehidupan sehari-hari yang lain bagi penderita stroke.
Konsep Motor Learning
TIPE TENS 01 – HARGA 1,5 – 3 JT PERSET
Toko Alat Terapi Kesehatan Pasar Gembrong Cipinang Besar Lantai Basement No
9, Jaka...
Pembelajaran (learning) merupakan suatu fenomena internal yang tidak dapat
secara langsung diamati. Fenomena ini didefinisikan sebagai suatu perubahan permanen
dalam kemampuan merespon sebagai akibat latihan atau suatu pengalaman. Duncan PW,
Badke MB (1987) mendefinisikan kemampuan motor learning sebagai kemampuan
seseorang untuk belajar dan mengorganisasikan pergerakan dengan tujuan untuk
beradaptasi terhadap lingkungannya.
TIPE TENS 01 – HARGA 1,5 – 3 JT PERSET
Toko Alat Terapi Kesehatan Pasar Gembrong Cipinang Besar Lantai Basement No
9, Jaka...
Terdapat perbedaan antara penampilan motorik (motor performance) dan
pembelajaran motorik (motor learning). Tse DW (1999) mendefinisikan motor
performance sebagai suatu penampilan keterampilan motorik tertentu yang terjadi
selama latihan dan tidak bersifat permanen, sementara motor learning adalah
keterampilan yang dipertahankan bahkan setelah latihan dihentikan. Penelitian-penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya Winstein CJ. (1987) menemukan bahwa kemampuan
untuk mempelajari tugas-tugas motorik setelah stroke dapat berubah, tetapi derajatnya
bervariasi tergantung gejala yang diakibatkan oleh stroke. Penderita stroke dengan
apraksia akan mempunyai dampak negatif pada proses motor learning, akan tetapi pada
penderita stroke dengan hemiparetik ringan proses motor learning hanya sedikit
terganggu.
TIPE TENS 01 – HARGA 1,5 – 3 JT PERSET
Toko Alat Terapi Kesehatan Pasar Gembrong Cipinang Besar Lantai Basement No
9, Jaka...
Konsep motor learning pada penderita stroke mempunyai tujuan :
(1) Membantu penderita stroke bergerak dalam aktivitas fungsional dengan pola
pergerakan normal.
(2) Membantu penderita stroke mencapai suatu pergerakan aktif secara otomatis.
(3) Memberikan repetisi sehingga pola normal tingkah laku dapat dipelajari.
(4) Melatih penderita stroke dalam sejumlah kondisi yang bervariasi sehingga
keterampilan dapat ditransfer pada situasi dan lingkungan yang berbeda-beda.
Tahap Motor Learning
Tiga tahapan motor learning menurut Tse DW (1999) :
(1) Cognitive stage. Pada tahap ini dibutuhkan pemusatan perhatian dalam memahami
tugas-tugas motorik yang akan dilakukan dan strategi untuk melakukannya.
(2) Associative stage. Mulai dikembangkan rujukan internal tentang pergerakan motorik
yang tepat dalam melakukan suatu tugas motorik, sehingga penderita dapat
membandingkan penampilan motoriknya dengan rujukan ini.
(3) Autonomous stage. Ditandai dengan atensi minimal pada penampilan motorik.
TIPE TENS 01 – HARGA 1,5 – 3 JT PERSET
Toko Alat Terapi Kesehatan Pasar Gembrong Cipinang Besar Lantai Basement No
9, Jaka...
Kemampuan untuk mendeteksi kesalahan telah berkembang penuh dan penampilan
motorik bersifat stabil dan otomatis
Perencaan terapi berdasarkan konsep motor learning
Beberapa konsep untuk membantu proses intervensi terapeutik berdasarkan
prinsip motor learning adalah : Determinan spesifik dari motor kontrol hal yang
dibutuhkan agar program rehabilitasi pasien stroke berhasil adalah penyusunan rencana
terapi yang realistik dan memilih strategi intervensi yang tepat dengan memahami
mekanisme penyebab timbulnya defisit motorik. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi
defisit motorik, menentukan komponen kontro lmotorik yang abnormal dan menentukan
komponen abnormal mana yang merupakan penyebab utama timbulnya defisit motorik.
Faktor yang mempengaruhi pergerakan normal dapat digambarkan sebagai berikut
:Persepsi, kognisi Kemampuan adaptasi Luas gerak sendi Keseimbangan Kontrol
motorik, Kekuatan,Sensibilitas, Koordinasi Sinergi Tonus otot
TIPE TENS 01 – HARGA 1,5 – 3 JT PERSET
Toko Alat Terapi Kesehatan Pasar Gembrong Cipinang Besar Lantai Basement No
9, Jaka...
Umpan balik (feedback)
Umpan balik merupakan suatu faktor penting yang menurut banyak teori
mempengaruhi proses motor learning. Seperti latihan, umpan balik merupakan variabel
yang dapat dikontrol dan diubah untuk meningkatkan proses belajar. Umpan balik adalah
suatu informasi tentang suatu respon yang dapat bersifat intrinsik atau ekstrinsik. Umpan
balik intrinsik didefinisikan sebagai suatu informasi sensori yang datang dari reseptor
khusus di dalam otot, sendi, tendon dan kulit serta reseptor visual dan auditorius baik
selama atau setelah dihasilkannya gerakan. Sementara itu umpan balik ekstrinsik adalah
informasi dari sumber eksternal tentang gerakan yang diberikan kepada orang yang akan
melakukan hal tersebut. Pada pasien stroke, umpan balik intrinsik sering mengalami
distorsi atau bahkan menghilang sehingga efektivitasnya dalam memberikan umpan balik
tentang penampilan motorik menjadi terbatas. Hal ini mengakibatkan diperlukannya
suatu penguatan melalui umpan balik ekstrinsik yang tepat. Umpan balik ekstrinsik dapat
memberikan informasi tambahan untuk memfasilitasi kesadaran dini akan suatu gerakan
dan proses belajar. Secara teoritis, umpan balik ekstrinsik merupakan hal penting untuk
terbentuknya rujukan internal tentang ketepatan suatu pergerakan, yang terbentuk melalui
proses latihan. Hal ini merupakan inti proses motor learning pada penderita stroke.
MC1500
Sandaran Kursi Untuk Terapi Kiropraksi Portable
goo.gl/D0RcFD
Ketika mengendarai kendaraan bermotor, Kita merasakan...

Umpan balik ekstrinsik mempunyai fungsi:
 (1) Memberikan informasi kepada
orang yang akan menggerakan tubuhnya tentang respon keluaran suatu gerakan dan
kesalahan yang dibuat olehnya.
(2) Sebagai penguat (reinforcement) atau penghargaan
(reward) untuk suatu perilaku bila telah mendekati tujuan yang diinginkan,
(3). Sebagai suatu motivator sehubungan dengan pencapaian tujuan.Umpan balik ekstrinsik harus
diberikan secara bertahap. Pada awal tahap kognitif (cognitive stage) diperlukan
pemberian umpan balik ekstrinsik yang cukup besar, sementara pada tahap asosiasi
umpan balik ini mulai dikurangi karena bila hal ini tidak dilakukan maka penderita stroke
akan menjadi seseorang yang tidak mandiri dalam melakukan tugas-tugas motoriknya.
MC1500
Sandaran Kursi Untuk Terapi Kiropraksi Portable
goo.gl/D0RcFD
Duduk atau berdiri terlalu lama dapat memberikan teka...
Umpan balik ekstrinsik bila dipergunakan secara tepat, dapat memfasilitasi
perkembangan suatu rujukan internal tentang ketepatan pergerakan. Sandin KJ, Mason
KD. (1996) berpendapat bahwa jika umpan balik ektrinsik tidak diinternalisasikan mejadi
umpan balik intrinsik (rujukan internal), maka tidak akan terjadi suatu perubahan
permanen.
MC1500
Sandaran Kursi Untuk Terapi Kiropraksi Portable
goo.gl/D0RcFD
Jarang berolahraga bisa membuat otot kaku. Namun, tak...
Tipe-Tipe Latihan
a. Massed practice vs Distributed practice
Schmidt (1998) membedakan antara massed practice dan distributed practice. Pada
massed practice, satu sesi latihan terdiri dari waktu latihan yang lebih banyak dari waktu
istirahat. Pada distributed practice, satu sesi latihan terdiri dari jumlah waktu latihan yang
sama dengan waktu istirahat. Pada pasienstroke distributed practice lebih sesuai untuk
diberikan karena kelelahan merupakan suatu faktor keterbatasan umum yang sering
terjadi.
MC1500
Sandaran Kursi Untuk Terapi Kiropraksi Portable
goo.gl/D0RcFD
High heels bisa memengaruhi keseimbangan postur tubuh...
b. Variable vs Repetitive Practice
Variable practice adalah bentuk latihan dengan mempelajari sejumlah variasi dari satu
tugas motorik, sementara repetitive practice adalah bentuk latihan berulang yang sama
atau konstan untuk suatu tugas motorik. Pada latihan untuk penderita stroke, variable
practice bermanfaat untuk meningkatkan kemampuantransfer keterampilan motorik pada
lingkungan yang berbeda, sementara suaturepetitive practice bermanfaat untuk
memperbaiki penampilan motorik.
Kumpulan berita seputar sakit punggung
http://tabloidnova.com/Kesehatan/Umum/5-Langkah-Mudah-Menceg ah-Sakit-Pungg ung
Pun...
c. Blocked Practice vs Random Practice
Blocked practice adalah suatu teknik latihan dengan cara melakukan satu tugas hingga
menguasainya, kemudian diikuti dengan latihan tugas selanjutnya. Sementara, random
practice adalah suatu bentuk latihan dengan cara melakukan latihan secara acak sejumlah
tugas atau sejumlah variasi dalam satu tugas motorik sebelum dikuasainya salah satu
tugas atau variasi. Secara teoritis, blocked practice lebih menguntungkan untuk proses
akuisisi keterampilan yang efisien, sementara random practice lebih efektif untuk proses
retensi dan transfer keterampilan motorik.
Kumpulan berita seputar sakit puggung dan solusi mengatasinya
d. Whole vs Part Practice
Winstein CJ. (1987) merekomendasikan bentuk latihan berupa part pratice (latihan
dengan memecah suatu tugas motorik menjadi tugas-tugas motorik yang lebih kecil)
untuk memperoleh komponen dasar tugas motorik, diikuti dengan melatihnya sebagai
suatu kesatuan (whole practice). Masih terdapat perbedaan pendapat mengenai
penggunaan kedua jenis latihan ini pada penderita stroke, akan tetapi secara umum jika
seorang penderita stroke tidak mampu menguasai seluruh langkah secara simultan, maka
dapat diberikan dorongan atau bimbingan manual untuk aspek-aspek tertentu dari tugas
tersebut. Bantuan terapis dapat kemudian secara bertahap dikurangi pada waktu
selanjutnya.
Tipe-Tipe Tugas Motorik
Roth EJ (2000) mempostulasikan bahwa aktivitas motorik dapat diklasifikasikan
mejadi 4 kategori umum berdasarkan pada kondisi lingkungan dan metode
pengeksekusian tugas-tugas motorik. Closed tasks adalah aktivitas motorik dalam
lingkungan yang stabil / statis (seperti tangga) dan dapat diprediksi serta menggunakan
metode aktivitas motorik yang bersifat konsisten sepanjang waktu.
Spondylolisthesis terjadi ketika salah satu dari vertebra lumbalis
slip di atas yang lain, atau di atas sakrum. Pada anak-...
 Contoh menyisir
rambut, karena dibutuhkan pola pergerakan konsisten sepanjang waktu. Open tasks
adalah aktivitas yang membuat pasien harus membuat suatu keputusan adaptif terhadap
suatu keadaan yang tidak dapat diprediksi karena objek tidak bersifat statis (bergerak).
Oleh karena hal itu maka aktivitas ini memerlukan pergerakan yang tepat waktu dan
antisipasi spasial. Dalam kondisi latihan ini dapat dibedakan : a. Consistent motion task.
Jika pergerakan objek sudah dapat diprediksi (contoh melangkah ke eskalator). b.
Variable motion task. Pergerakan objek dalam lingkungan yang tidak dapat diprediksi,
seperti perubahan lingkungan saat melakukan manuver dengan kursi roda listrik.
Seseorang harus mempelajari lebih dari satu metode untuk pelaksanaan tugas
motorik.Oleh karena aktivitas hidup sehari-hari terutama merupakan suatu open
tasks,maka seorang penderita stroke lebih baik dilatih untuk melakukan strategi
pergerakan umum yang dapat diaplikasikan pada sejumlah lingkungan (Duncan PW
1987).
A Time for Relaxation
ADVANCE ICHIRO STREAM diciptakan untuk memanjakan tubuh Anda dan menghadirkan relaksasi
kapanpun bag...
Strategi terapi
Tujuan rehabilitasi stroke adalah untuk melatih penderita mengembangkan
strategi pergerakan yang bersifat fungsional, responsif terhadap perubahan lingkungan
dan mudah diadaptasikan pada aktivitas hidup sehari-hari. Penetapan strategi terapi
didasarkan pada. Penggunaan pendekatan analitik untuk menganalisa strategi pergerakan,
respon postural dan umpan balik yang dibutuhkan untuk timbulnya gerakan yang
diinginkan.

Menentukan komponen yang hilang dalam kontrol motorik gerakan normal,
melakukan latihan dengan memposisikan penderita sebagai active learner (penderita
berpartisipasi aktif dalam pergerakan dengan mengembangkan kemampuannya sendiri
dalam mengotrol gerakan). Lingkungan harus bersifat mendukung terjadinya kerjasama
antara penderita dan terapis serta dibentuk sedemikian rupa agar mendekati lingkungan
aktual sehingga dapat meningkatkan kemampuan mentransfer keterampilan motorik yang
dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata. Latihan dilakukan dalam konteks aktivitas
fungsional, karena selain merupakan suatu gerakan yang bertujuan (meaningful goal -
directed actions) juga memfasilitasi proses transfer motor learning ke dalam aktivitas
hidup sehari-hari.

Kesimpulan
Program rehabilitasi yang berhasil untuk penderita stroke tergantung pada ketepatan
menentukan determinan terjadinya disfungsi pergerakan, penegakan tujuan terapi yang
realistik dan pemilihan strategi intervensi yang tepat serta penggunaan prinsip-prinsip
latihan serta motor learning Programe.

Daftar Pustaka
Basmajian JV. Therapeutic exercise for stroke patients. Dalam : Basmajian JV & Wolf
SL, penyunting. Therapeutic exercise. Edisi 5. Baltimore : William Wilkins;
1990. h. 207-30
Brandstater ME, Stroke rehabilitation. Dalam : DeLisa JA, Gans BM, penyunting.
Rehabilitation medicine principles and practice. Edisi ke 3. Philadelphia :
ippincott Raven;1998.h.1165-89.
Brammer MC, Herring MG. Stroke rehabilitation. Dalam : Brammer CM, Spires MC,
penyunting. Manual of physical medicine and rehabilitation. Philadelphia :
Hanley&Belfis, Inc.; 2002.h.136-65.
Duncan PW, Badke MB. Therapeutic strategies for rehabilitation of motor deficits.
Dalam : Stroke Rehabilitation : The Recovery of Motor Control. Chicago: Year
Book Medical Publishers, Inc; 1987.h. 161-95
Konsensus Nasional Rehabilitasi Stroke. Jakarta : PERDOSRI. 2004.

Kottke FJ, Therapeutic exercise to develop neuromuscular coordination. Dalam :
Krusen’s hand book of physical medicine and rehabilitation.
Roth EJ, Harvey RL. Rehabilitation of stroke syndromes. Dalam : Braddom RL,
penyunting. Physical medicine and rehabilitation. Edisi ke-2. Philadelphia : WB
Saunders; 2000.h.1053-87.

Sandin KJ, Mason KD. Functional kinesiology. Dalam : Cifu DX, penyunting. Manual of
Stroke Rehabilitation. Boston : Butterworth-Heinemann;1996. h.55– 62, 135.
Tse DW. Practice condition and motor learning in individual post-stroke : Apilot study
comparing random and block practice. London, Ontario:January.1999. p. 2-17
Winstein CJ. Motor learning consideration in stroke rehabilitation. Dalam : Stroke
Rehabilitation : The Recovery of Motor Control. Chicago: Year Book Medical
Publishers, Inc; 1987.h.109-33.
sumber tekst
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PEMULIHAN%20KONTROL%20MOTORIK%20PENDERITA%20STROKE%20DENGAN.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar